Camera Angle, Berbagai Sudut
Pengambilan Gambar
Camera Angle atau sering disebut sebagai sudut pengambilan gambar dengan
kamera, merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk menyampaikan
pesan melalui penempatan kamera pada sudut dan ketinggian tertentu. Camera
Angle bukan hanya masalah teknis semata, dengan menempatkan kamera dari
sudut pandang yang tepat, maka akan mampu berbicara banyak hal dan menghasilkan
nilai dramatik dalam sebuah adegan yang dapat mempengaruhi emosi penonton.
Secara umum Camera Angle dalam
pengambilan gambar dapat dibagi menjadi tiga yaitu :
- High Angle.
High Angle (bird Eye View) merupakan sudut pengambilan gambar yang dilakukan dengan
menempatkan kamera lebih tinggi dari subyek yang diambil gambarnya. Pengambilan
gambar bisa dari belakang, depan maupun samping. Tiga sudut pandang yang umum
digunakan dalam pengambilan shot ini diantaranya (a) High angle shot,
(b) Very high angle shot dan (c) Overhead shot (top angle).
Dengan menggunakan high angle subyek
dapat dicitrakan tidak mempunyai kekuatan, terkesan lebih kecil, menjadi lemah,
merasa tertekan, kesedihan yang mendalam, inferior, maupun hal lain yang
bersifat minor. Subyek-subyek dalam shot ini contohnya seorang terdakwa dalam
sebuah persidangan, orang yang dieksekusi mati, orang sakit dan lain
sebagainya.
Selain digunakan untuk melemahkan
posisi subyek, pegambilan gambar dengan high angle juga bisa digunakan
untuk menciptakan kesan yang luas pada sebuah area.
Pengambilan gambar high angle
dapat menggunakan peralatan portal jib, jimmyjib, helicam, crane atau
dengan alat apapun asal kamera dapat diposisikan lebih tinggi dari subyek.
- Normal Angle
Normal Angle (Stright Angle/Chest
Level/Eye Level) merupakan teknik pengambilan gambar
yang memposisikan kamera sejajar secara horisontal dengan ketinggian subyek,
bisa setinggi dada ataupun setinggi penglihatan subyek.
Pengambilan gambar Normal Angle
banyak digunakan pada adegan-adegan yang standar, baik saat dialog dalam film
fiksi maupun pada saat wawancara pada film dokumenter.
- Low Angle
Low Angle (Frog Eye View) merupakan teknik pengambilan gambar yang memposisikan
kamera berada lebih rendah secara horisontal dari subyek yang akan dibidik.
Tiga sudut pandang yang umum digunakan dalam pengambilan shot ini diantaranya
(a) Low Angle Shot, (b) Very low angle shot dan (c) botom angle
low angle shot
Pengambilan gambar dengan Low
Angle biasa digunakan untuk memberi kesan lebih kuat, berkuasa, kokoh dan
superior. Subyek gambar bisa berupa manusia, binatang, arsitektur atau apapun.
Pada beberapa kasus, pengabilan gambar dengan teknik ini biasa diambil untuk
subyek raja agar tampak berwibawa, bangunan istana yang megah, dan lain
sebagainya.
Sutradara
Sutradara atau pembuat film adalah orang yang bertugas
mengarahkan sebuah film sesuai dengan manuskrip, pembuat film juga
digunakan untuk merujuk pada produser film. Manuskrip skenario digunakan untuk mengontrol aspek-aspek seni
dan drama. Pada masa yang sama, sutradara mengawal
petugas atau pekerja
teknik dan pemeran untuk memenuhi
wawasan pengarahannya. Seorang sutradara juga berperan dalam membimbing kru teknisi
dan para pemeran film dalam merealisasikan kreativitas yang dimilikinya.
Tanggung
jawab
Sutradara bertanggung jawab atas
aspek-aspek kreatif pembuatan film, baik interpretatif maupun
teknis. Ia menduduki posisi tertinggi dari segi artistik dan memimpin pembuatan
film
tentang "bagaimana yang harus tampak" oleh penonton. Selain mengatur
laku di depan kamera dan mengarahkan akting
serta dialog, sutradara juga mengontrol posisi beserta
gerak kamera, suara, pencahayaan, dan hal-hal lain yang
menyumbang kepada hasil akhir sebuah film.
Semiotika, Bahasa dan Karya Sastra
Peranan semiotika dalam mengungkap tanda-tanda dari kebudayaan manusia sangat
besar. Semiotika mampu memberikan interpretasi yang sangat penting bagi
perkembangan suatu kebudayaan masyarakat. Semiotika adalah ilmu yang
mempelajari tentang tanda. Saussure menyatakan bahwa “semiology is a science
which studies the role of signs as part of social life. Sebagai ilmu yang
mepelajari tentang makna tanda, semiotika memiliki cakupan yang sangat luas.
Karena itulah dalam buku ini juga dibahas mengenai berbagai hal yang berkaitan
dengan tanda.
Semiotika bisa dikatakan sebagai satu-satunya alat yang bisa mengungkap apa
yang ada dalam tanda-tanda itu. Dalam buku ini disebutkan bahwa semiotika
dianggap sebagai kartu AS dalam menelaah budaya. Dengan semiotika orang akan
mengetahui segala persoalan budaya yang dihadapi dalam pergulatan sosial.
Barthers berkeyakinan bahwa semiotika merupakan kekuatan eksentrik budaya
modern. Eksentrik bukan hanya dalam arti “aneh” (sekalipun mungkin terasa aneh)
namun lebih dalam arti kekuatan kritik dari ”luar”. (Sunardi, Semiotika
Negativa, p. 4 ).
Semiotika akan menjadi semacam kursi roda, kartu As dalam pengethuan wacana.
(Sunardi, Semiotika Negativa, p. 4).
Produk budaya modern yang sangat nyata dan penuh dengan tanda-tanda sosial
adalah karya sastra. Karya sastra merupakan cerminan dari masyarakatnya, oleh
karena itu karya sastra memiliki makna simbolis yang perlu diungkap dengan
model semiotika. Sebagai karya yang bermediakan bahasa, karya sastra memiliki
bahasa yang sangat berbeda dengan bahasa yang lazim digunakan dalam kehidupan
sehari-hari maupun karya ilmiah. Bahasa dalam sastra menggunakan gaya bahasa
tersendiri. Disini disebutkan bahwa bahasa merupakan dimensi horisontal dan
gaya adalah dimensi vertikal. Sebagai lingkungan keniscayaan, bahasa dan gaya
menghasilkan Nature atau kodrat bagi seorang penulis. Jadi bahasa dan gaya
merupakan suatu objek (dalam arti Gegendstand) ((p. 11).
Bahasa memiliki kekuatan yang luar biasa dalam kehidupan manusia. Bahasa
merupakan pranata sosial yang di dalamnya terkandung sistem nilai. Oleh karena
itu bahasa merupakan bagian terbesar dari telaah semiotika. Bahasalah yang
menjadikan manusia berbeda dengan makhluk lain. Dengan bahasa manusia mampu
berkomunikasi dan berintaraksi dengan sesamanya. Bahasa itulah yang telah
menjebatani lahirnya berbagai kemajuan yang ada dalam kebudayaan manusia.
Disinilah lahir konsep setrukturalisme antropologis yang mempercayai bahasa
yang digunakan dalam suatu komunitas menggambarkan kondisi komunitas itu
sendiri.
Dalam karya sastra, seorang penulis dianggap memiliki otonomi. Penulis memiliki
kebebasan menggunakan gaya bahasa yang dipilih sesuai dengan yang dikehendaki
tampa harus mempertimbangkan kehendak dari luar dirinya. Karena kebebasannya
inilah maka seorang pengarang mampu memberikan pandangan dan gagasannya secara
leluasa tanpa harus merasa khawatir terhadap tatabahasa yang digunakannya.
Dengan demikian apa yang dituliskan dalam karya sastra seorang pengarang tentu
memiliki harapan dan tujuan yang bersifat pribadi pula. Dari sinilah lahir
suatu sudut pandang yang hendak ditanamkan oleh seorang pengarang kepada
pembacanya. Dengan demikian tidak menutup kemungkinan karya sastra membawa
idelogi dari sang penulis. Sebagai kiasan disebutkan sebagai peberikut;
Sastra ibarat cahaya yang menembus bidang-bidang yang masih gelap namun perlu
didalami. Tetapi sastra juga bisa membuat hal-hal yang tak absurd menjadi lebih
bisa diterima-sekalipun tidak intelligible. (Sunardi, Semiotika Negativa, p.
17).
Keotonomian pengarang dalam mengolah karya sastra, menjadikan muatan yang ada
dalam karya sastra menjadi sangat subjektif. Dalam arti apa yang diyakini oleh
pengarang akan tercermin dan akan terefleksikan dalam karya sastranya. Termasuk
bahasa dan gaya yang digunakan dalam menyampaikan gagasan melalui karyanya.
Dengan cara yang demikian, sastra mampu memberikan keterangan terhadap suatu
persolan sangat sulit diungkap dengan kata-kata di luar karya sastra. Lotman
(1970:21) mengatakan bahwa “Literature posesses an exclusive, inherent system
of signs (...) which serve to transmit special messages, nontransmittable by
other means.
Bahasa, budaya, dan Ideologi
Seperti yang sudah disebutkan di atas, kebebasan yang dimiliki oleh seorang
penulis membawa pada lahirnya suatu pemikiran atau lebih luasnya ideologi.
Ideologi yang dibawa oleh sebuah karya sastra akan merubah pola pikir, sudut
pandang dan sampai pada perilaku masyarakat sebagai penikmat karya sastra. Oleh
karena itu keterkaitan antara bahasa, budaya dan ideologi tidak bisa
dipisahkan. Ketiganya akan saling terkait. Bahasa sebagai salah satu media
terpenting dalam budaya manusia melahirkan suatu konsep yang dinamakan dengan
ideologi. Hal itu juga yang tertuang dalam media massa modern yang saat ini
sedang mengalami perkembangan sangat pesat. Seperti yang disebutkan Lipovetsky
dalam tulisan berikut ini
“In the past few years, several social thinkers in France and Italy have
confronted the reign of mass culture as largely and searchingly as possible,
while we in the English-speaking world have tended to narrow this subject to
violence on television, the sexual ethics of rock stars, or the vices and
virtues of an urban landscape increasingly resembling Desneyland”. (Sunardi,
Semiotika Negativa, p. 28).
Dari paparan di atas dapat kita simpulkan bahwa aktivitas membaca sebuah karya
merupakan proses untuk menghasilkan sesuatu. Jadi pembaca karya sastra bukan
semata-mata untuk sekedar menikmati karya, tetapi dari situlah akan melahirkan
pemikiran yang distimuli oleh karya yang sudah dibacanya. Dengan demikian
membaca bukan mencari struktur, melaikan merestrukturasi. Membaca juga bukan
sekedar mengonsumsi tetapi untuk memproduksi tek kembali. Karena perananya yang
begitu besar dalam mempengaruhi pembaca, maka tugas penulis bukan sekedar
menulis begitu saja. Tetapi seorang penulis atau pengarang meliki tugas untuk
melahirkan keinginan yang kuat dari pembaca untuk membaca tulisannya.
Sistem tanda dalam semiotika
Tanda dapat ditemukan dalam ekpresi yang terungkap dalam aktivitas manusia.
Dari aktivitas komunikasi manusia akan terdapat perbedaan (kejanggalan).
Perbedaan dalam suatu proses komunikasi inilah yang disebut tanda. Dengan
demikian, suatu sistem tanda dapat menghasilkan makna karena prisip perbedaan
(difference). Dengan demikian makna suatu tanda bukanlah terjadi secara alamiah
melainkan dihasilkan dari lewat sistem tanda yang dipakai dalam kelompok orang
tertentu (p. 53).
Untuk memudahkan pemahaman kita akan hubungan simbolis mengenai tanda dapat
diperhatikan gagasan Saussure mengenai tiga gagasan dalam semiotika. Yaitu;
simbolik, paradigmatik dan sintagmatik. Hubungan simbolik adalah hubungan tanda
dengan dirinya sendiri (hubungan internal). Hubungan paradigmatik adalah
hubungan tanda dengan tanda lain dari satu sistem atau satu kelas. Sedangkan
hubungan sintagmatik adalah hubungan tanda dengan tanda lain dari satu
struktur. Hubungan paradigmatik dan sintagmatik ini disebut juga hubungan ekternal.
Sedangkan hubungan simbolik disebut juga sebagai koordinat simbolik sedangkan
dua yang terakhir koordinat klasifikasi atau koordinat taksonomik. (p. 54).
Makna tanda dalam kehidupan masyarakat sebenarnya sangat signifikan.
Tanda-tanda ini bahkan menghiasi segala gerak individu dalam masyarakat.
Barthes menyatakan bahwa tanda simbolik memenuhi kebutuhan manusia akan
pengalaman metafisis, otentisitas, kemutlakan, dan keabadian. Pribadi yang kaya
dengan tanda-tanda simbolik akan merasa solid, dan masyarakat yang disatukan
dengan hubungan simbolik memperarat atau menyatukan keanekaragaman. Kesadaran
simbolik berguna untuk mengintegrasikan antara yang lahir dan yang batin,
tampak dan tidak tampak, permukaan dan dasar. (Sunardi, Semiotika Negativa, p.
61).
Pendekatan semiotika bersifat struktural karena semiotika mengasumsikan adanya
hirarki sistem tanda. Struktur inilah yang akan menjadi media kita menemukan
perbedaan-perbedaan itu. Berbicara mengenai struktur kita tidak bisa lepas dari
konsep struktur Levi Strauss mengenai konsep struktur tanda. Struktur tanda
yang dimaksud adalah; petama, linguistik struktural bergeser dari kajian gejala
linguistik yang disadari ke kajian infrastruktur tak-sadar. Kedua, linguistik
struktural tidak memperlakukan terms (istilah) sebagai entitas independen
melainkan mengangkatnya sebagai landasan analisis untuk mendapatkan hubungan
antar-term. Ketiga, linguistik struktural memasukkan konsep sistem linguistik
modern tidak hanya menyatakan bahwa fonem selalu merupakan bagian dari suatu
sistem; fonetik menunjukkan sistem fonetik yang konkret dan menunjukkan
strukturnya. Dengan demikian linguistik struktural bertujuan menyingkapkan
hukum umum, entah dengan induksi atau dengan deduksi logis, yang dapat
menunjukan ciri absolutnya. (p. 95).
Mitos dan ideologi
Setelah memahami arah penelitian semiotika dan struktur tanda dalam semiotika,
pembahasan fokus pada mitos. Mitos berasal dari bahasa Yunani yakni Mutos, yang
berarti cerita. (Sunardi, Semiotika Negativa, p. 103). Mitos biasanya menunjukan
cerita yang belum tentu benar. Dengan kata lain mitos merupakan cerita buatan
yang tidak mempunyai kebenaran historis. Meskipun demikian, cerita semacam itu
tetap memiliki kekuatan oleh karena itu tetap dibutuhkan oleh manusia. Dengan
adanya mitos manusia dapat memahami lingkungan dan dirinya.
Sebagai sistem semiotik, mitos dapat diuraikan ke dalam tiga unsur, yakni;
sigifier, signified, dan sign. Atau istilah lain yang digunakan oleh Barthes
adalah form, concept, dan signification. Form sejajar dengan signifier, concept
dengan signified, dan signification dengan sign. Untuk menghasilkan sistem
mitis, sistem semiotik tingkat dua mengambil seluruh sistem tanda tingkat
pertama sebagai signifier atau form. Sign diambil oleh sistem tingkat dua
menjadi form. Adapun concept diciptakan oleh pembuat atau pengguna mitos. Sign
yang diambil untuk dijadikan form diberinama lain, yaitu meaning karena kita
mengetahui tanda hanya dari maknanya. Ini berarti satu kaki meaning beradiri di
atas tingkat kebahasaan (sebagai sign), satu kaki yang lain di atas tingkat
sistem mitis (sebagai form).
Teori mitos dikembangkan Barthes untuk melakukan kritik atas ideologi budaya
massa (budaya media). Karena dalam perkembangannya mitos bukan hanya berkaitan
dengan cerita-cerita yang tidak logis. Mitos berkembang dalam kontek yang lebih
modern. Dalam bukunya Mythology (1983) Barthes menyebutkan bahwa mitos bisa
dalam bentuk fotografi, sinema, reportasi, olahraga, pertunjukan, pulbikasi
yang mendukung wacana mitis. Untuk itu mitos yang ditelaah dalam buku ini juga
mitos yang terdapat dalam media massa. Roland Barthes menyatakan media massa
memiliki makna mitologi yang tersebar di masyarakat. Dengan mengangkat media
massa sebagai kajian, Barthes memeriksa bentuk-bentuk mitos yang kita temukan
dalam media massa dan muatan ideologis yang ada di dalammya.
Kekuatan mitos sangat besar dalam masyarakat. Oleh karena itu mitos tidak dapat
dilawan secara frontal. Kalau hal ini dilakukan, kita akan menjadi mangsa
mitos. Mitos harus dilawan dengan mitos baru. Mitos baru ini dibuat berdasarkan
mitos-mitos yang sudah ada. Inilah komunikasi kreatif yang diidealkan Barthes.
(Sunardi, Semiotika Negativa, p. 102).
Contoh produk budaya yang mengandung mitos modern, dapat kita pelajari dari
contoh yang diberikan Roland Barthes berkut ini. Barthes menafsirkan gambar
foto seorang anak kulit hitam dengan seragam tentara Perancis yang sedang
menghormat sebuah bendera Perancis. Gambar ini ditafsirkan sangat mendalam
dalam telaah semiotikanya. Foto/serdadu negro itu adalah form, tafsiran
“kebesaran imperium Negara Perancis” kita sebut dengan concept, sedangkan
signification dalam kedua hal ini adalah keseluruhan sistem tanda tentang
kebesaran Perancis atau mitos kebesaran Perancis. Foto inilah yang secara
langsung mampu menyampaikan konsepsi mengenai negara Perancis, meskipun kita
tidak membaca uraian tertulis dari foto itu.
Deformasi terjadi karena konsep dalam mitos terkait erat dengan kepentingan
pemakai atau pembuat mitos (yaitu kelompok masyarakat tertentu). Dilihat dari
proses signification, mitos berarti menaturalisasikan konsep (maksud) yang
historis dan meng-historisasi-kan sesuatu yang intensional. (Sunardi, Semiotika
Negativa, p. 113). Oleh karena itulah mitos dibuat bukannya tanpa maksud
melainkan intensional. Mitos dibuat dengan tujuan tertentu. Seperti gambar foto
seorang negero di atas. Gambar itu dipilih oleh Said yang sedang membahas
hubungan antara imperialisme dan budaya. Disitu tentu terkandung maksud
tertentu dari si penulis dalam menggunakan foto itu sebagai kover bukunya.
***
Berdasarkan kesadaran akan tujuan dari dibuatnya suatu mitos. Maka pembahasan
ini tentu dikaitkan dengan kepentingan pembuat mitos. Lebih jauh lagi
pembahasan mitos berkaitan dengan ideologi. Dalam analisis ideologi secara semiotik,
Barthes menyarankan agar kita melakukan pendekatan campuran, yaitu semiologi
dan ideologi. Akan tetapi ia memperingatkan bahwa “ideology has its methods,
and so has sociology”. Sejauh ini kita sudah memeriksa metode semiotik. Kita
sekarang masih harus memeriksa metode ideologi dan bagaimana menggabungkan dua
pendekatan ini agar kita dapat melakukan kritik ideologi secara semiotik.
Gagasan mengenai ideologi sendiri sebenarnya masih sangat kabur. Masing-masing
orang terkadang memiliki pengertian yang berbeda. Marx mengartikan ideologi
sebagai pengelabuan, Gramsci sebagai “pandangan tentang dunia”, dan Althussser
mengatakan bahwa “ideology interpellates the subjects”. (Sunardi, Semiotika
Negativa, p. 133). Dari beberapa pendapat ini, yang terdekat dengan mitos
adalah pendapat Marx. Sebagaimana kita lihat muatan mitos yang tidak memiliki
nilai historis sebenarnya hanya kemampuan si pembuat mitos untuk mengelabuhi
masyarakat. Disinilah kemenangan si pembuat mitos yang secakarang mungkin
disebut dengan wacana itu. Inilah yang kemudian memungkinkan kita melakukan
kajian ideologi baik secara sinkronik maupun diakronik. (Sunardi, Semiotika
Negativa, p. 133).
Dengan pandangan demikian, dapat kita pastikan bahwa kemenangan orang-orang
modern sekarang adalah pada tataran wacana. Semakin tinggi tingkat kemampuan
menciptakan mitos-mitos modern, orang akan survive dalam pergulatan masyarakat
modern sekarang ini. Walhasil semua orang berlomba dalam menggaungkan wacana,
agar bisa menjadi mitos dalam masyarakat. Seperti gagasan liberalisme. Gagasan
ini sebenarnya bentuk dari esensialisme: semua orang bebas asalkan bertindak
sesuai dengan posisi dan sifat yang sudah ditentukan. “Ditentukan” yang pada
mulanya merupakan peristiwa historis menjadi “ditentukan” dalam waktu mitis.
“peristiwa” tidak lagi dipahami secara historis melaikan mitis. (Sunardi,
Semiotika Negativa, p. 137). Karena konteknya yang demikian, maka budaya,
singkatnya bukan merupakan konsep yang statis melainkan sebuah arena untuk
kontes politis dan ideologis yang penuh kegetiran”. (Sunardi, Semiotika
Negativa, p. 141).
Singkatnya pemahaman akan mitos akan sangat penting bagi setiap manusia modern.
Karena kita tidak akan pernah bisa melawan mitos tanpa melawan dengan mitos
baru. Jika kita tidak mengetahui mitos yang berkembang maka kita akan selalu
berada dalam ketertindasan. Seperti yang sudah disebutkan di dalam mitos
terdapat kekuatan untuk mempengaruhi atau menanamkan suatu kepercayaan yang
berarti kekuasaan. Model interaksi seperti inlah yang saat ini terjadi di dalam
percaturan masyarakat modern. Semakin kuat mitos yang dikeluarkan makan akan
menjadi suatu pegangan dan itulah yang disebut dengan kebudayaan. Dalam
kehidupan modern kebudayaan adalah sebuah proses untuk mengaktualisasikan
kekuatan kapital.... Jadi ideologi dibedakan dengan gejala kebudayaan. Kalau
gejala kebudayaan dapat dikenali cukup lewat bahasa, ideologi harus dikenali
lewat wacana (dan untuk mengenali wacana tentu saja harus lewat bahasa karena
wacana tidak lain adalah “ a kind of writen word according to a special code”.
(Sunardi, Semiotika Negativa, p. 143).
Foto atau gambar
Pembahasan mengenai mitos sudah membawa kita pada kesadaran akan pentingnya
pemahaman makna dari mitos. Media massa seperti gambar juga dapat melahirkan
gagasan atau sering disebut mitos. Masyarakat modern tidak bisa dilepaskan dari
media ini. Segala aktivitas dan bentuk komunikasi sangat berkaitan erat dengan
media ini. Terutama sekali adalah media massa yang identik dengan gambar. Media
massa setiap hari akan menampilkan foto atau gambar yang mengandung pesan-pesan
tertu. Ada beberapa alasan mengapa Barthes membahas persoalan gambar; yang
pertama adalah ia ingin mengembangkan sebuah pendekatan struktural untuk
membaca foto media. Kedua, Barthes ingin melihat fungsi dan kedudukan gambar
dalam pembentukan budaya media (Semiotika Negativa, p. 156).
Tidak berbeda dengan pembahasan kita akan makna mitos, foto atau gambar juga
memiliki fungsi ideologis. Gambar memiliki peran penyampai informasi yang
terkadang lebih efektif kepada masyarakat. Itulah kenapa foto atau gambar juga
sering dianggap sebagai bagian dari propaganda (p. 157). Dalam dunia bisnis
gambar sering digabungkan dengan kata-kata. Dalam iklan gambar lebih menekankan
pada fungsi memperjelas atau memberikan daya tarik.
Wacana
Pembahasan kedudukan dan fungsi masing-masing komponen dalam buku ini membawa
kita pada bentuk produk budaya yang paling kuat. Jika pada awal buku ini
dibahas mengenai fungsi bahasa, karya sastra, mitos dan gambar, maka pada
bagian akhir buku ini dibahas mengenai wacana. Barthes menyatakan bahwa wacana
merupakan produkk budaya yang paling efektif untuk membentuk atau mempengaruhi
masyarakat. Wacana dipahami sebagai bahasa imajiner dan satu-satunya media
untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Karena itu dalam wacana bahasa
memiliki makna ganda; yaitu sebagai media penyampai informasi dan juga sebagai
pemberi hiburan.
Menurut Barthes, wacana dan bahasa tidak bisa dipisahkan meskipun keduanya
memiliki perbedaan. Dalam buku ini disebutkan; language flows out into
discourse; discourse flows back into language; they persist one above the other
like children topping each other’s fists on baseball bat (p. 234). Dengan kata
lain bahasa mengalir dalam wacana dan wacana disedot lagi oleh bahasa. Keduanya
saling tarik menarik. Hanya dengan bahasalah kita dapat menyusun wacana. Dan
wacana adalah tindakan kita saat kita menggunakan bahasa.
Namun demikian dalam kontek ini Barthes lebih mengutamakan wacana daripada
bahasa. Karena wacana menyangkut kebebasan manusia, budaya sebagai ungkapan
kebebasan harus dilihat pada wacana. Demikian juga persoalan identitas dan
subjektivitas harus dilihat dalam wacana. Wacana dalam kata-kata Barthes,
adalah “the realm of the individual moments of language use, of particular
‘utterance’ or ‘messages’ whether spoken or written.” (p. 236). Dapat
disimpulkan bahwa manusia sebagai subject, homo loquens, dapat dikenali paling
jelas dalam wacana. Di dalam wacana eksistensi manusia modern diakui.
Begitu besarnya peranan bahasa dalam menyusun wacana. Barthes menganggap adanya
kekuasaan bahasa dalam wacana. Oleh karena itu wacana dibagi dalam dua hal;
yaitu; wacana teroris dan wacana oportunis. Wacana teroris adalah wacana yang
muncul hanya karena “kekerasan yang inheren” dalam bahasa atau kata. Karena
wacana teroris dibuat dengan menggunakan stereotipe, dalam stereotipe kekuasaan
bahasa. Karena bahasa adalah masalah kekuasaan dan wacana adalah persoalan
menjalankan kehendak untuk berkukasa. Wacana yang disusun dari stereotipe dapat
disebut wacana oportunis.
Membahas mengenai kekuasaan bahasa tentunya kita akan kembali pada keistimewaan
karya sastra. Barthes menyatakan untuk menghindarkan diri dari fasisme
kekuasaan bahasa salah satunya dengan menggunakan karya sastra. Sastra memungkinkan
kita memahami wacana di luar belenggu kekuasaan. Lewat pesona revolusi abadi
bahasa. Ia mengatakan sastra merupakan muslihat yang menyembuhkan, strategi
untuk menghindar, dan siasat yang dasyat untuk mengelabui. (p. 242).
Ada tiga fungsi sastra yaitu; methasis, mimesis, dan semiosis. Fungsi methasis
adalah fungsi sastra untuk memberikan pengetahuan tentang kenyataan. Sastra
bisa memberikan tema baru bagi wacana baru pula. Fungsi mimesis adalah fungsi
untuk menghadirkan yang tidak mungkin dihadirkan. Fungsi semiosis adalah fungsi
sastra untuk menghidupkan tanda (to act signs). Masing-masing fungsi ini bisa
disebut juga sebagai fungsi realis, fungsi utopian (representatif), dan fungsi
performatif (p. 242-243). Inilah sebenarnya kenapa bahasa dan wacana adalah
kekuasaan dan kekuatan.
Kematian author
Jika dalam proses penulisan karya sastra sebelumnya sudah disebutkan bahwa
penulis memiliki kebebasan berekpresi. Dalam arti bahwa penulis memiliki
kebebasan mengungkap segala hal yang mungkin sulit untuk diungkap dengan media
lain. Namun demikian, dalam kaitannya dengan tek yang telah dihasilkannya
pengarang tidak memiliki otoritas untuk mempertahankan tek yang telah
dibuatnya. Informasi yang telah tertuang dalam tek yang telah dibuat si
pengarang akan mengalami perubahan interpretasi ketika dibaca oleh penikmatnya.
Barthes berpendapat bahwa author telah mati (Kematian Author). Dalam konsep ini
seorang author sudah tidak memiliki otoritas untuk mempertahankan kandungan
teknya. Author hanya sekedar menyampaikan apa yang ada dalam benaknya. Namun
keputusan akan makna dari tek yang telah dihasilkan akan sangat tergantung pada
kemampuan interpretasi seorang pembaca. Dalam hal ini pembaca sangat bebas
memperlakukan dan menafsirkan apa yang sudah ditulis oleh author. Apapun yang
dipahami oleh pembaca seutuhnya bisa terlepas dari apa yang dimaksudkan oleh si
author.
As institution, the author is dead: his civil status, his biographical person
have disappeared; dispossessed, they no longer exercise over his word the formidable
paternity whose account literary history, teaching, and public opinion had the
responsibility of establishing and renewing; but in the text, in a way, I
desire the author: I need his figure (which is neither his representation nor
his projection), as he needs mine (except to “prattle”).
Kesimpulan
Setelah membaca secara seksama buku Semiotika Negativa, dapat disimpulkan bahwa
maksud dari buku ini adalah memberikan kesadaran kepada kita akan pentingya
kita memahami produk budaya masyarakat. Mitos, karya sastra, foto, dan wacana
selama ini telah mempengaruhi kehidupan kita secara nyata. Produk budaya yang
tadinya kita anggap tidak penting ini ternyata memiliki peranan yang luar biasa
dalam mengungkap persoalan-persoalan yang terjadi di dalam pergulatan sosial
kita.
Pemahaman kita akan persoalan di atas juga menyadarkan kita akan peranan bahasa
yang cukup besar dalam kehidupan manusia. Bahasa bukan sekedar sebagai media
berkomunikasi tetapi juga dalam bahasa itu terdapat aspek-aspek budaya yang
dimiliki manusia. Mitos, karya sastra dan wacana yang bermediakan bahasa bisa
menjadi media untuk mengungkap nilai-nilai budaya yang ada pada suatu
masyarakat. Itulah kenapa kita juga mengenal adanya Struralisme Antropologi
yang mempelajari sosio-budaya melalui bahasa.
pro·duk·si n 1 proses mengeluarkan hasil; penghasilan: ongkos
-- barang; 2 hasil: buku itu merupakan -- nya yg pertama; 3
pembuatan: -- film itu menelan biaya cukup besar;
-- arus produksi massa yg prosesnya melalui sederetan mesin yg
masing-masing hanya menyelesaikan sebagian kecil dr proses; -- berat hidup
Tern produksi ternak dr suatu usaha peternakan yg dinyatakan dl berat
hidupnya (penimbangan ternak pd waktu masih hidup); -- bersih Ikn
produksi total dikurangi jumlah ikan yg ditanam (dl ukuran berat); -- kotor
jumlah keseluruhan bahan organik yg terbentuk dl satu waktu tertentu, termasuk
yg langsung digunakan untuk proses metabolisme; -- massa pembuatan
barang dl jumlah besar-besaran, biasanya dng mesin, baik yg berupa ulangan
produk lama maupun produk yg coraknya telah diberi variasi, msl dl hal warna
dan perlengkapannya; -- pertanian barang, baik berupa tanaman maupun
hewan atau yg lain, yg dihasilkan oleh suatu usaha tani atau perusahaan
pertanian; -- susu jumlah air susu yg dihasilkan oleh (perusahaan)
ternak perah; -- telur jumlah telur yg dihasilkan oleh perusahaan
peternakan dl waktu tertentu; -- telur per ekor jumlah telur yg
dihasilkan oleh seekor ayam petelur sejak bertelur sampai dikeluarkan krn sudah
kurang produktif; -- ternak jumlah ternak yg dihasilkan oleh perusahaan
peternakan, biasanya hasil dl satu tahun;
ber·pro·duk·si v mengeluarkan hasil; menghasilkan: industri
aluminium di Jayapura telah mulai ~;
mem·pro·duk·si v menghasilkan; mengeluarkan hasil: pabrik
itu sedang mencoba semaksimal mungkin ~ tekstil yg bermutu sama dng mutu buatan
luar negeri;
pem·ro·duk·si n 1 yg memproduksi; 2 alat untuk
memproduksi;
pem·ro·duk·si·an n proses, cara, perbuatan memproduksi
produksi n 1) pabrikasi, pembuatan, penerapan, perakitan;
2) buatan, kreasi, produk;
memproduksi v melahirkan, membikin (cak), membuat,
menciptakan, menelurkan, mengeluarkan, menghasilkan, mengilang, mereka cipta,
memublikasikan
Product Line
Produk Line adalah
sekelompok produk yang berhubungan erat karena mereka berfungsi dengan cara
yang sama, dijual kepada kelompok pelanggan yang sama, dipasarkan melalui tipe
yang sama dari outlet, atau jatuh dalam rentang harga yang diberikan.
Product Line
-Length
Panjang lini
produk menunjukkan jumlah produk yang berbeda dalam lini produk. Sebuah lini
produk yang panjang memiliki banyak produk yang berbeda di dalamnya dan lini produk
singkat memiliki sejumlah kecil produk yang berbeda. Pekerjaan manajer produk
adalah untuk menentukan berapa banyak produk untuk memasukkan dalam lini
produk. Jika ada jenis produk terlalu banyak dalam lini produk, mereka akan
mulai bersaing satu sama lain, meningkatkan biaya yang tidak perlu dan bahkan
membingungkan pelanggan. Jika lini produk yang terlalu pendek akan membatasi
pilihan pelanggan dan mengirim pelanggan ke pesaing dengan pilihan produk yang
lebih besar.
Product Line
–Depth
Beberapa jenis
produk dalam lini produk dapat dibagi lagi menjadi beberapa kelompok, kedalaman
lini produk menunjukkan berapa banyak subkelompok lini produk mengandung.
Misalnya Samsung telah membagi ponsel mereka ke dalam baris layar sentuh
berikut produk, slider / folder, keyboard QWERTY dan telepon bar. Masing-masing
lini produk dapat lebih dibagi menjadi subkelompok pada saat menulis artikel
ini Samsung memiliki ponsel slider 7 seluler dan 32 ponsel layar sentuh ponsel,
32 adalah lini produk yang mendalam.
Product Line
–Width
Adalah jumlah
produk line yang telah dibagi bagi secara mendalam serta dalam suatu perusahaan
itu membuat produk-produk yang berbeda manfaatnya. Misalnya unilever yang
memiliki banyak produk yang berbeda-beda seperti rinso, sunsilk, dsb.
Contoh
Perusahaan yang mengembangkan Product
Line
UNILEVER
Unilever adalah
perusahaan multinasional yang memproduksi barang konsumen yang bermarkas di
Rotterdam, Belanda. Perusahaan ini didirikan tahun 1930. Perusahaan ini
mempekerjakan 206.000 pekerja. Memproduksi makanan, minuman, pembersih, dan
konsumen pribadi. Beberapa merek terkenal milik Unilever adalah: Rinso,
Sunsilk, Dove, dan Clear. Di Indonesia, Unilever bergerak dalam bidang produksi
sabun, deterjen, margarin, minyak sayur dan makanan yang terbuat dari susu, es
krim, makanan dan minuman dari teh, produk-produk kosmetik, dan produk rumah
tangga.
Unilever
Indonesia didirikan pada 5 Desember 1933 sebagai Zeepfabrieken N.V. Lever. Pada
22 Juli 1980, nama perusahaan diubah menjadi PT Lever Brothers Indonesia dan
pada 30 Juni 1997, nama perusahaan diubah menjadi PT Unilever Indonesia Tbk.
Unilever Indonesia mendaftarkan 15% dari sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan
Bursa Efek Surabaya pada tahun 1981.dan mempunyai lebih dari 1000 supplier.
Contoh bahwa
Unilever Mengembangkan Product Line
Product Line
–Length : misalnya Produk Lifebuoy.
Lifebuoy memiliki banyak jenis didalam brand
tersebut. Ada Lifebuoy Shampoo, Sabun Lifebuoy, Lifebuoy Hand Sanitizer, dsb. Itulah yg dimaksudkan dengan product
length yg dipisahkan jenis-jenis dalam produk atau brand yang sama.
Product Line
–Depth : Misalnya Produk Lifebuoy. Didalam jenis Lifebuoy Soap, terdapat
berbagai macam pembentukan atau jenis-jenis dalam sabun lifebuoy tersebut.
Misalkan saja sabun Lifebuoy yang batangan, ada lagi sabun lifebuoy yang cair
yang dipaketkan kedalam botol atau sachet. Jadi intinya adalah product line
depth ini membagi suatu produk lebih dalam lagi.
Product Line
–Width : Misalnya saja satu kesatuan perusahaan Unilever yang mana Unilever
company telah meluncurkan banyak produk-produk yang berbeda manfaatnya. Seperti
Rinso, Surf, Sunsilk, Lifebuoy, Molto, clear, blueband, Axe, dan masih banyak
lagi. Keseluruhan jenis produk itulah yang dinamakan Product line –width.
Pengenalan
Tim dan Crew pembuat film
Proses Produksi Film dapat dikatakan sebagai sebuah system, artinya antara
komponen yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan tidak dapat
dipisahkan satu dengan yang lainnya. Kegagalan pada salah satu proses akan
menyebabkan sulitnya membuat film yang enak ditonton dan mempunyai
kesinambungan yang utuh. Proses produksi yang dimulai dari adanya suatu ide
yang kemudian dikembangkan dalam bentuk naskah dan akhirnya di visualisasikan
menjadi sebuah bentuk film yang kemudian harus di evaluasi untuk mengetahui
mutu dari film tersebut melibatkan orang – orang yang kompeten di bidangnya,
berdedikasi tinggi dan mempunyai kemampuan untuk bekerjasama dalam tim yang
baik.
Sebelum membuat cerita film, kita harus menentukan tujuan pembuatan film. Hanya
sebagai hiburan, mengangkat fenomena, pembelajaran/pendidikan, dokumenter,
ataukah menyampaikan pesan moral tertentu. Hal ini sangat perlu agar pembuatan
film lebih terfokus, terarah dan sesuai. Mengembangkan naskah ke dalam program
video siap pakai melalui tahapan-tahapannya : Tahap Pra Produksi, Tahap
Produksi, Tahap Pasca Produksi. Dalam produksi film sangat erat kaitannya
dengan kerabat kerja atau tim atau crew pelaksana pembuatan film dan deskripsi
kerjanya masing-masing. Adapun tim tersebut dapat terdiri atas :
Produser
Sebutan ini untuk orang yang memproduksi sebuah film tetapi bukan dalam arti
membiayai atau menanamkan investasi dalam sebuah produksi. Tugas seorang
produser adalah memimpin seluruh tim produksi agar sesuai dengan tujuan yang
telah ditetapkan bersama, baik dalam aspek kreatif maupun manajemen produksi dengan
anggaran yang telah disetujui oleh executive producer. Dalam menjalankan
tugasnya produser di bantu oleh asst. Produser.
Sutradara atau Director
Orang yang mengontrol tindakan dan dialog di depan kamera dan bertanggung jawab
untuk merealisasikan apa yang dimaksud oleh naskah dan produser.
Asst. Director
Seorang asisten sutradara film yang
memperhatikan administrasi, hal yang penting sehingga departemen produksi
selalumengetahui perkembangan terbaru proses pengambilan film. Ia bertanggung
jawab akan kehadiran aktor/aktris pada saat dan tempat yang tepat, dan juga
untuk melaksanakan instruksi sutradara.
Art Director
Pengarah artistik dari sebuah produksi.
Floor Director
Seseorang yang bertanggungjawab membantu mengkomunikasikan keinginan sutradara
dari master control ke studio produksi.
Script Writer
Bertugas membuat Ide cerita, Pencetus atau pemilik ide cerita pada naskah film.
Penulis scenario
Bertugas menterjemahkan ide cerita ke dalam bahasa visual gambar atau skenario.
Cinematographer (Sinematografer)
Penata Fotografi. Orang yang melaksanakan aspek teknis dari pencahayaan dan
fotografi adegan. Sinematografer yang kreatif juga akan membantu sutradara
dalam memilih sudut, penyusunan, dan rasa dari pencahayaan dan kamera.
Cameramen
Bertugas mengambil gambar atau mengoperasikan kamera saat shooting.
First Cameraman sering disebut sebagai Penata Fotografi (Director of
Photography) atau kepala kameramen, bertanggung jawab terhadap pergerakan
dan penempatan kamera dan juga pencahayaan dalam suatu adegan. Kecuali dalam
unit produksi yang kecil, Penata Fotografi tidak melakukan pengoperasian kamera
selama syuting yang sesungguhnya.
- Second Cameraman
sering disebut sebagai asisten kameramen atau operator kamera, bertindak
sesuai instruksi dari kameramen utama dan melakukan penyesuaian pada
kamera atau mengoperasikan kamera selama syuting.
- First Assistant Cameramen sering disebut Kepala Asisten untuk pada operator
kamera. Seringkali bertanggung jawab untuk mengatur fokus kamera (untuk
kamera film)
- Second Assistant Cameraman, menjadi asisten operator kamera.
- Lighting, Bertugas
mengatur Tata cahaya ( pencahayan dalam produksi film.
Tata musik (Music Director)
Bertugas membuat atau memilih musik
yang sesuai dengan nuansa cerita dalam produksi
Tata Suara dan Sound Recorder
Bertugas membuat atau memilih atau merekam suara dan efek suara yang sesuai
dengan nuansa cerita dalam produksi film.
Film Costume Designer
Bertugas membuat atau memilih kostum atau pakaian yang sesuai dengan nuansa
cerita dalam produksi film.
Make up Artist
Bertugas mengatur make up yang sesuai dengan nuansa cerita dalam produksi film.
Tata Artistik atau Artistic Director
Bertugas membuat dan mengatur latar dan setting yang sesuai dengan nuansa
cerita dalam produksi film.
Editor
Bertugas melakukan editing pada
hasil pengambilan gambar dalam produksi film.
Kliper
Bertugas memberi tanda pengambilan
shot dalam produksi film.
Script Supervisor, Script Clerk atau
Pencatat Adegan
Bertanggungjawab untuk mencatat seluruh adegan dan pengambilan gambar yang
diproduksi. termasuk semua informasi yang diperlukan seperti durasi, arah
gerakan, pengarahan mimik wajah, penempatan aktor/aktris dan properti, serta
gerakan fisik yang harus disesuaikan aktor/aktris dalam semua cakupan yang
berurutan untuk kemungkinan pengambilan gambar ulang. Semua informasi ini
dimasukkan dalam salinan naskah milik supervisi naskah dan digunakan oleh
editor ketika tahap editing. Dalam salinan ini juga dimasukkan catatan dari
sutradara untuk editor.
Casting
Bertugas mencari dan memilih pemain yang sesuai ide cerita dalam produksi film.
Agent (Agent Model)
Seseorang yang dipekerjakan oleh satu atau lebih talent agency atau serikat
pekerja untuk mewakili keanggotaan mereka dalam berbegosiasi kontrak individual
yang termasuk gaji, kondisi kerja, dan keuntungan khusus yang tidak termasuk
dalam standard guilds atau kontrak serikat kerja. Orang ini diharapkan oleh
para aktor/aktris untuk mencarikan mereka pekerjaan dan membangun karir mereka.
Art Departement
Bagian artistik. Bertanggung jawab terhadap perancang set film. Seringkali
bertanggung jawab untuk keseluruhan desain priduksi. Tugasnya biasanya
dilaksanakan dengan kerjasama yang erat dengan sutradara dan cameraman.
Dialogue Coach or Dialogue Director
Orang dalam set yang bertanggung jawab membantu para aktor/aktris dalam
mempelajari kalimat mereka selama pembuatan film. Mungkin juga membantu
pengaturan dialog saat.
Green Departement
Bertanggungjawab untuk menyediakan
pepohonan, semak, bunga, rumput, dan benda-benda hidup lainnya baik yang asli
maupun buatan dan juga sebagaia ahli dekorasi.
Sinopsis
Kalau film yang akan digarap
berdasarkan dari gagasan yang dimulai dengan penentuan tema, maka Sinopsis
merupakan pengembangan dari Dasar Cerita. Sinopsis kurang lebih adalah
ringkasan cerita yang berisi:
- Garis besar jalan cerita.
- Tokoh protagonis.
- Tokoh antagonis.
- Tokoh penting yang menunjang plot utama/jalan cerita
utama.
- Terdapat problem utama dan problem-problem penting yang
berpengaruh pada jalan cerita.
- Motif utama dan motif-motif pembantu Action yang
penting.
- Klimaks dan penyelesaian
- Kesimpulan.
Penjelasan dari poin-poin di atas
adalah sebagai berikut:
1. Garis besar jalan cerita.
Meski cerita diuraikan secara ringkas, namun harus memperlihatkan alur cerita
yang jelas.
2. Tokoh protagonis dan Tokoh
antagonis.
- Tokoh protagonis harus dijelaskan siapakah dia? Apa
keinginannya? Apa kejelekannya? Kelebihannya? Bagaimana membuat simpati
padanya?
- Tokoh Antagonis harus dijelaskan siapa dia? Kenapa dia
harus menghambat tokoh protagonis? Apa alasannya? Apa kemampuannya untuk
membuat penonton antipati?
3. Tokoh penting yang menunjang plot
utama/jalan cerita utama.
Tokoh-tokoh yang penting untuk menunjang plot utama atau alur utama. Teman
Protagonis atau Antagonis. Penggambaran tokoh ini sudah harus jelas ketika
tokoh ini membuat bagian penting dalam bergulirnya sebuah cerita.
4. Problem Utama
Harus terlihat problem utama yang melahirkan alur utama cerita. Problem utama
itulah yang membuat sasaran perjuangan protagonis sampai akhir.
5. Motif utama
Penilaian atas motif utama sejalan dengan problem utama, yakni apakah motif
utama mendorong protagonis melahirkan cerita memang sesuai dengan problem utama
yang melahirkannya.
6. Klimaks dan Penyelesaian
Pencapaian klimaks merupakan hal yang amat penting untuk dinilai karena klimaks
adalah puncak dari tangga dramatik. Jika diandaikan klimaks harus berada tepi
tebing yang curam dan sangat berbahaya. Alur cerita harus membawa protagonis ke
arah tebing yang berbahaya!
7. Kesimpulan
Apa yang ingin disampaikan dalam cerita harus bisa disimpulkan dalam sinopsis.
Jika dalam sinopsis belum bisa disimpulkan maka perlu ada tambahan informasi
yang jelas
Showreel Course
If
you want to take that next step towards becoming a professional actor or you
feel you need to relaunch your career and you don’t have time or wish to attend
a formal training course such as the Screenwise 2 Year Full-time Diploma of
Screen Acting, then you have to be realistic – you will need a current
professional showreel to help get you there.
Screenwise
boasts actors of the calibre of Todd Lasance (Spartacus, Cloudstreet),
Tabrett Bethell (Legend Of The Seeker), Andy Whitfield (Spartacus),
Chris Hemsworth (Thor), Isabel Lucas (Transformers), Ed Kavalee (Thank
God You’re Here, NOVA 96.5), Ashleigh Cummings (Puberty Blues), Stef Dawson
(Hungers Games Mockinjay 1 & 2), Meegan Warner (Turn) and
Christian Clark (Home & Away) amongst its high profile students and
graduates.Unlike other courses on offer, this course not only provides a top
professional showreel, shot on location by professional directors which is then
passed on to the major Casting Agencies on completion – the tuition and support
provided by the school and it’s current industry working professional actors,
directors and casting consultants for the duration of the course is second to
none. Screenwise students have scored roles in Rake, Underbelly, Rescue,
Crownies, Packed To The Rafters and countless TV Commercials while studying
at Screenwise.
The
Screenwise Showreel course is a part time, year long course that develops and
refines screen acting skills required for a professional and competitive
showreel.
In
the final stages of the course, students prepare for their showreel shoot under
the guidance of industry professionals. Course costs are all inclusive and
cover tuition, showreel shoot, professional directors, editing and post
production costs.
The
Showreel course is an extremely popular course and due to it’s boutique style
means places are strictly limited and it fills very quickly. So if you’re ready
to be a professional actor and take the next step, then the Showreel Course is
definitely for you.
Auditions
for the Screenwise Showreel course are held each year from September till
November for the January intake and May/June for the July intake. The course
consists of two classes per week, 3 hours each in duration over four 10 week
terms. Students can choose their preference of either 2 classes on one day or two
evenings per week. (Applicants can choose their preference at the
audition/interview. This option is only available until the classes are
filled). Entry is by audition only.
Audition Requirements are:
- Prepared Film/TV monologue 1 minute in length (Applicants
choice).
- Prepared Film/TV scene (Screenwise choice).
All
Screenwise tutors contracted for this course are prominent industry working
professional Actors, Directors and Casting Consultants. Due to Screenwise
Students being exposed to these professionals on an intimately regular basis
throughout the course, providing students with rare networking opportunities is
why Screenwise has become Australia’s leading film and TV school for actors.
Curriculum in Brief:
Term One
- Script Analysis
- Voice
- Screen Acting & Performing
- Characterisation
Term Two
- Drama
- Audition Technique
- Comedy
- Presenting
Term
Three
- Blocking
- Props
- Continuity
- Rehearse/Record
- Green Screen
Term Four
3. Anakronisme
1.Anakronisme adalah hal ketidakcocokan dengan zaman
tertentu berupa penempatan tokoh, peristiwa percakapan, dan unsur latar yang
tidak sesuai menurut waktu di dalam karya tulis.
- JENIS-JENIS
SPECIAL EFFECT DI FILM
Bikin film jadi seru? Pastinya...
Film sukses bukan hanya karena akting aktor yang bagus, kawan. Film juga
sukses dengan bantuan komputer, make up, kamera, dan jangan lupa soal special
effect-nya. Berkat special effect kita bisa menyaksikan banyak hal yang tidak
terbayangkan sebelumnya. Apa aja sih teknologi special effect yang ada? Ini dia
infonya!
1.) Virtual Cinematography
Virtual Cinematography adalah efek khusus dalam film yang
dibuat dengan komputer grafis. Bisa juga memotret obyek asli untuk dibuat obyek
3D digital sebagai kreasi virtual cinematography.
Cara kerjanya:
Hasil kreasi virtual 3 dimensi dimasukkan ke dalam mesin
3D bersama adegan yang diinginkan. Lalu kreasi virtual 3D ditambahkan ke adegan
tadi. Bisa juga adegan yang sudah ditambahi kreasi virtual 3D tadi, difoto
ulang untuk mendapatkan adegan dari sudut yang berbada.
2.) Digital Compositing
Merupakan cara penggabungan beberapa gambar menjadi satu.
Bisa sama-sama berupa adegan atau adegan yang disatukan dengan efek khusus.
Contoh penggabungan adegan misalnya pada film Forrest Gump dimana Forrest Gump
berbicara dengan Presiden Nixon.
Cara kerjanya:
Menggunakan software khusus yang dapat memisah-misahkan
adegan seperti lapisan demi lapisan lalu menumpuknya menjadi satu.
3.) Stop-Motion
Efek khusus yang memanipulasi benda menjadi terlihat
bergerak dengan sendirinya. Misalnya di film Wallace And Gromit, karakter yang
terdiri dari patung clay bisa bergerak dengan sendirinya.
Cara kerjanya:
Benda yang akan dibuat bergerak sebenarnya dibuat
bergerak sedikit demi sedikit. Nah, gerakan demi gerakan kecil tadi difoto
dengan seksama pada sudut yang sama. Lalu keseluruhan foto tadi diputar secara
sekuen sehingga benda-benda tadi terlihat bergerak. Secara prinsip, tekhnik ini
mirip animasi, kok. Benda yang digunakan untuk obyek bisa bermacam-macam tapi
biasanya menggunakan clay sehingga sering juga disebut claymation alias clay
animation.
4.) Prosthetic Make Up
Efek khusus pada film dengan menggunakan teknik-teknik
make up sehingga didapatkan tampilan yang diinginkan pada aktor. Misalnya make
up tokoh Mystique film X-Men.
Cara kerjanya:
Dibuat cetakan khusus dari bahan gypsum untuk wajah atau
bagian tubuh yang diinginkan. Cetakan akan diisi silikon yang akan mengeras dan
ditempelkan ke wajah atau bagian tubuh tertentu. Supaya lebih realistis,
setelah ditempelkan di tubuh, nanti bahan silikon ini akan diwarnai lagi
berbarengan dengan make up si aktor.
5.) Computer Generated Imagery
Computer Generated Imagery adalah efek khusus yang
menggunakan perangkat lunak komputer 100% untuk menghasilkan gambar seperti
benda asli. Misalnya pada film Toy Story,keseluruhan karakter dan setting
dibuat dengan perangkat lunak komputer. Dengan CGI ini, pembuat film leluasa
membuat setting apapun, misalnya setting pada film Lord of The Ring. Juga bisa
mengcopy atau memperbanyak gambar obyek. Misalnya film 300, terlihat seperti
film super kolosal yang melibatkan ratusan orang. Padahal orang yang terlibat
enggak begitu banyak dan hanya di-copy berulang-ulang.
Cara kerjanya:
Dibuat dulu model obyek dengan clay yang akan dibuat
dengan perangkat lunak komputer. Nantinya patung clay ini akan dianalisa
komputer. Supaya gambar dapat bergerak, komputer animasi 3D menggabungkan model
dari obyek dan gerakan yang sudah diprogram.
6.) Blue Screen/Green Screen
Aktor beraksi dengan menggunakan latar belakang biru atau
hijau. Warna biru atau hijau dapat diganti dengan latar belakang lain, misalnya
langit sehingga terkesan seperti terbang.
Cara kerjanya:
Sang aktor beraksi di depan kamera seperti gerakan yang
diinginkan. Tapi ia berdiri di latar belakang berwarna biru atau hijau. Latar
belakang warna biru dihilangkan untuk “ditempel” dengan adegan main, misalnya
awan atau pemandangan tertentu. Si aktor jadi tampak terbang.
7.) Animatronics
Efek khusus yang menggunakan robot atau boneka yang
digerakan secara elektronik atau robotic. Keunggulannya, lebih alami ketimbang
CGI karena merupakan benda nyata.
Cara kerjanya:
Obyek yang diinginkan dibuat dengan teknologi
animatronic. Misalnya dinosaurus atau monster. Nah, obyek ini biasanya berkulit
silikon atau lateks yang diwarnai sehingga sangat mirip aslinya. Agar terlihat
alamiah, dipakai teknologi robotik agar gerakannya mirip aslinya.
8.) Camera Slow/Camera Freeze
Efek khusus yang menimbulkan efek seperti kita bisa
memutari sang aktor pada adegan tertentu. Misalnya pada film The Matrix.
Cara kerjanya:
Aktor berdiri di tenggah dan dalam posisi diam. Kamera
disiapkan dalam jumlah banyak dan mengelilingi sang aktor. Saat “action!”,
kamera secara bersamaan atau bergantian merekam. Gambar ini disatukan di
komputer sehingga minimbulkan efek seperti kita mengelilingi si aktor.